Candida albicans

Candida albicans adalah anggota flora normal selaput mukosa, saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan genetalia wanita. Patogenesis Candida albicans dipengaruhi oleh kondisi yang ada pada tubuh seseorang, seperti leukimia, tumor, diabetes, dll. Infeksi jamur pada vagina menimbulkan rasa gatal pada daerah vulva dan introitus vagina dengan atau tanpa disertai fluor albus, dan sangat mengganggu aktivitas.

II.2.1 Morfologi dan Identifikasi

Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas, menghasilkan Pseuodomiselium baik dalam biakan maupun dalam jaringan dan eksudat. Candida albicans jamur bersel tunggal dari keluarga Cryptoceae. Candida albicans tidak berbahaya, jika pertahanan tubuh lemah dan terutama daya tubuh menurun, maka sifat komensal dapat berubah menjadi patogen yang dapat menyebabkan infeksi.

Pada sediaan apus eksudat, Candida albicans, gram (+), berukuran 2-3 x 4-6 µm, dan se-sel bertunas yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa). Pada agar Sabouraud yang dieramkan pada suhu kamar, bentuk koloni lunak, warna coklat seperti ragi. Pertumbuhan terdiri dari sel-sel bertunas lonjong, pseudomiselium.Terdiri dari pseudohifa menjadi blastokonidia pada nodus-nodus dan kadang-kadang klamidokonidia pada ujung-ujung.(Jawetz et al,1996).

Candida albicans jamur bersel satu dan bereproduksi dengan blastospora, dibentuk pada ujung-ujung.Candida albicans meragikan glukosa dan maltosa menjadi asam dan gas, asam dari sukrosa, dan tidak bereaksi dengan laktosa.

Candida albicans tahan terhadap suhu dingin, tetapi sensitif terhadap suhu panas (50°-60°C), juga sensitif terhadap pewarnaan anilin seperti methyl, violet, briliant green(Supriatno,1999). Jamur ini mudah tumbuh pada suhu 20°-37°C pada agar Sabouraud(Volk W.A et al, 1982). Koloni tipis terbentuk pada 24-36 jam pada agar Sabouraud dan diameter 1,5-2mm setelah 5-7 hari.Pseudomiselium. Candida albicans terlihat pada kondisi anaerob dan terdiri dari sel panjang yang tetap pada ujung rantai.

Candida albicans lebih sering didapat daripada species Candida yang lain menjadi simtomatik .Untuk membedakan Candida albicans dengan species lain, sel ragi ini diinkubasi pada suhu 37°C dalam serum Candida albicans menjadi sel-sel lonjong bertunas.

II.2.2 Struktur Antigen

Tes aglutinasi dengan serum yang tereabsorbsi menunjukkan bahwa semua strain Candida albicans terbagi dalam dua kelompok besar serologik A dan B. Kelompok A termasuk C.tropicalis. Ekstrak Candida untuk tes serologik dan kulit tampak terdiri atas campuran antigen. Antibodi ini dapat diketahui melalui presipitasi, imunodifusi, imunoelektroforesis balik, aglutinasi lateks, dan tes-tes lain. Tetapi pengenalan antibodi ini tidak selalu membantu dalam mendiagnosis penyakit akibat Candida. Pada Candidiasis yang tersebar, sering terdapat antigen mannan dari Candida yang beredar,dan kadang-kadang dapat ditemukan antibodi presipitasi terhadap antigen nonmannan.Sebenarnya semua serum manusia normal akan mengandung antibodi Ig G terhadap C.mannan.(Jawetz et al,1996)

II.2.3 Daya Patogen

Candidiasis adalah suatu infeksi dari jamur. Jenis jamur yang menginfeksi adalah dari genus Candida. Biasanya, infeksinya berupa superfisial dari daerah kutaneus tubuh yang lembab. Infeksi paling sering disebabkan oleh Candida albicans. Infeksi ini sering menyerang kulit (dermatokandidiasis), membran mukosa mulut (thrush def 1), saluran pernapasan (bronkokandidiasis), dan vagina(vaginitis). Dari jamur-jamur ini, jarang sekali terdapat infeksi sistemik atau endokarditis.

Ada pula jenis infeksi dari Candida yang kronis seperti pada kelainan imunodefisiensi selular pada kulit dan membran mukosa. Cirinya adalah terdapat alergi kutaneus, dan pada beberapa kasus terjadi pula aktivasi limfosit atau produksi faktor penghambat migrasi yang berkurang. Kedua kekurangan ini sebagai respon terhadap antigen Candida. Selain itu, aktivitas humoral terjadi secara normal. Banyak penderita infeksi ini juga disertai endokrinopati (penyakit Addison, hipoparatiroidisme, hipotiroidisme, atau diabetes melitus)

Ada juga jenis Candidiasis yang menyerang kulit dan dapat bermanifestasi sebagai lesi menyerupai eksim. Jenis ini bisa menjadi kronis yang disebut dengan istilah dermatocandidiasis. Akibat lain dari jamur Candida adalah Candidid. Jenis ini merupakan erupsi kulit sekunder yang merupakan ekspresi hipersensitivitas terhadap infeksi jamur tersebut dibagian tubuh lain. Erupsi ini disebut pula sebagai moniliid .

II.2.4 Virulensi Candida albicans

Faktor virulensi Candida yang menentukan adalah dinding sel. Dinding sel merupakan bagian yang berinteraksi langsung dengan sel penjamu. Dinding sel Candida mengandung zat yang penting untuk virulensinya, antara lain turunan , mannoprotein yang mempunyai sifat imunosupresif sehingga mempertinggi pertahanan jamur terhadap imunitas penjamu. Candida tidak hanya menempel, namun juga penetrasi ke dalam mukosa. Enzim proteinase aspartil membantu Candida pada tahap awal invasi jaringan untuk menembus lapisanmukokutan yang berkeratin (Chaffin et al dalam Anne, 2000). Faktor virulensi lain adalah sifat dimorfik Candida. Sifat morfologis yang dinamis merupakan cara untuk beradaptasi dengan keadaan sekitar. Dua bentuk utama Candida adalah bentuk ragi dan bentuk pseudohifa yang juga disebut sebagai miselium. Perubahan dari komensal menjadi patogen merupakan adaptasi terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Dalam keadaan patogen, Candida albicans lebih banyak ditemukan dalam bentuk miselium atau pseudohifa atau filamen dibandingkan bentuk spora (Winarto dan Wibowo.,dalam Anne,2000). Kemampuan Candida berubah bentuk menjadi pseudohifa merupakan salah satu faktor virulensi. Bentuk hifa mempunyai virulensi yang lebih tinggi dibanding bentuk spora, karena : (Vazque dan Balish dalam Anne, 2000)

  • Ukurannya lebih besar dan lebih sulit difagositosis oleh sel makrofak, sehingga mekanisme diluar sel untuk mengeliminasi hifa dari jaringan terinfeksi sangatlah penting.

  • Terdapatnya titik-titik blastokonidia multipel pada satu filamen sehingga jumlah elamen infeksius yang ada lebih besar.

II.2.5 Manifestasi Klinik

Infeksi Candida dapat terjadi,apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor predisposisi utama seperti diabetes mellitus, imunodefisiensi, pemberian antimikroba (yang mengubah flora bakteri normal), dan kortikosteroid. Candida dapat mengenai mulut, vagina, kuku, bronki, dan paru-paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis atau meningitis :

  • Mulut

Infeksi mulut (sariawan), terutama pada bayi, terjadi pada selaput mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-bercak putih yang sebagian besar terdiri atas pseudomiselium dan epitel yang terkelupas, dan hanya terdapat erosi yang minimal pada selaput. Pertumbuhan Candida lebih subur bila disertai kortikosteroid, antibiotik, kadar glikosa tinggi, dan imunodefisiensi (Jawetz et al,1996).

  • Genetalia Wanita

Vulvovaginitis menimbulkan iritasi, gatal yang hebat, dan pengeluaran sekret. Pada kasus yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah miksi, dan dispaneuria. Fluor albus pada Candidiasis vagina berwarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan berwarna putih kekuningan, berasal dari massa yang terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur (Djuanda,Adhi et al.,dalam Anne,2000). Hilangnya pH asam merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitas Candida.

  • Kulit

Infeksi kulit terutama terjadi pada bagian tubuh yang basah dan hangat. Infeksi paling sering terdapat pada orang yang gemuk dan diabetes. Daerah-daerah yang terkena menjadi merah dan mengeluarkan cairan dan dapat membentuk vesikel-vesikel (Siregar.,dalam Anne,2000).

  • Kuku

Sedikit gatal dan nyeri bila ada infeksi sekunder, kuku akan berwarna hitam coklat, menebal, tidak bercahaya, biasanya dari pangkal kuku hingga ke distal (Siregar.,dalam Anne,2000)

  • Paru-paru dan organ lain

Infeksi Candida dapat menyebabkan invasi sekunder pada paru-paru, ginjal, dan organ lain yang sebelumnya telah menderita penyakit lain (misalnya TBC dan kanker).

II.2.6 Terapi Candidiasis

Kebanyakan jamur sangat resisten terhadap obat-obatan antibakteri. Hanya sedikit bahan kimia yang diketahui dapat menghambat jamur patogen pada manusia, dan banyak diantaranya relatif toksik. Kebutuhan untuk mendapat obat antijamur yang lebih baik lebih ditekankan dengan sangat meningkatnya insiden infeksi jamur baik lokal maupun sistemik pada pasien yang kurang imun. Amfoterisin B yang dsuntikkan secara intravena, merupakan usaha pengobatan efektif yang telah diterima untuk sebagian besar bentuk candidiasis yang mengenai organ dalam. Nistatin sering dipakai untuk merawat candidiasis mukokutan seperti thrush dan vaginitis. Lesi pada candidiasis dirawat dengan suspensi nistatin tetes oral yang mengandung 100.000 unit/ml atau tablet nistatin vaginal peroral yang mengandung 100.000 unit 3 atau 4 kali sehari. Obat tidak langsung ditelan tetapi ditahan dulu dalam mulut ( Wood dan goaz.,dalam Anne,2000).

Nistatin merupakan antibiotik polien yang dihasilkan oleh Streptomyces noursei. Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi, tetapi tidak aktif terhadap bakteri, protozoa, dan virus.Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. Cara kerjanya melibatkan ikatan nistatin dengan sterol membran jamur, terutama ergosterol. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan nistatin akan mengganggu permeabilitas membran sel dan mengganggu proses transport, mungkin dengan membentuk pori. Hal ini menyebabkan hilangnya kation dan makromolekul dari dalam sel (Siswandono dan Soekardjo; Katzung, Ganiswarna,G Sulistia.,dalam Anne,2000).

Nistatin tidak dipakai secara parenteral. Obat ini tidak diserap melalui saluran cerna, kulit, atau selaput lendir. Pemberian secara topikal pada kulit atau membran mukosa (bukal,vagina) dalam bentuk krim, salep, supositoria, suspensi, atau tepung untuk menekan infeksi Candida lokal. Nistatin dikeluarkan bersama tinja. Efek samping pada pemakaian nistatin jarang ditemukan. Mual, muntah, dan diare ringan mungkin didapatkan setelah pemakaian peroral. Iritasi kulit maupun selaput lendir pada pemakaian topikal belum pernah dilaporkan (Ganiswarna, G Sulistia.,dalam Anne,2000).

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s